Sunday, September 18, 2016

Rindu

Surabaya, 25 Oktober 2015
Rindu acap kali tidak mau mengerti. Datang dan pergi sesuka hati, tanpa permisi. Seperti saat ini. Aku merindukanmu dan ini bukan yang pertama kali. "Lembayung Bali" menemaniku malam ini, sembari memanggil kembali memori-memori yang telah kita ukir hari demi hari. Masa-masa yang kita lalui bersama dengan berani, kekuatan yang saling kita bagi, dan satu per satu curahan hati. Ada yang bilang kalau sahabat adalah orang yang kita pilih untuk diri kita sendiri. Namun, kita sama-sama yakin bahwa semua sudah terencana pasti. Aku tidak bisa lebih bersyukur dari ini, karena kita bisa saling mengisi. Terima kasih sudah menjadi sosok yang begitu peduli, bahkan ketika aku abai pada diriku sendiri. Jarak dan waktu tidak akan menghalangi, karena sahabat sepertimu tidak terganti.

Burjo dan angkringan menjadi saksi, kita harus tetap hepi.


Yogyakarta, 18 September 2016

Membentangkan Jarak

Pada suatu hari salah seorang sahabat berpetuah, "Jarak akan membuat semua menjadi lebih nyata. Hati bertambah peka, rasa semakin kuat." Di hari yang lain sahabat lainnya mengamini petuah tersebut, "Dia sudah mengalaminya dan aku saat ini sedang mengalaminya." Dalam hidup ini, memang ada hal-hal yang kadang sulit ditelaah dengan logika atau dipahami dengan metode matematis. Mungkin ini salah satunya, hubungan antara jarak, intensitas interaksi dan perasaan. Hal yang kadang berbanding lurus, tetapi tidak jarang pula berbanding terbalik.

Bagaimana jika kita coba renungkan bersama petuah tadi? Apakah perbedaan tempat justru membuat kita semakin dekat? Apakah selama ini kita terlalu sibuk sendiri hingga melewatkan apa yang terjadi? Apakah waktu kita habis untuk menerka-nerka hingga lupa untuk saling bertegur sapa? Apakah fokus kita teramat tinggi untuk menciptakan momen yang sempurna hingga selalu ragu untuk mencoba? Apakah kita selalu bertanya-tanya hingga lalai bersyukur bahwa masih diberi rasa? Bagaimana jika kita coba rasakan bersama petuah tadi?

Merasa... Tanpa bertanya...

Allah mengerti bahwa kita butuh ruang untuk sendiri. Menjalani hari demi hari hingga kita menyadari apa yang disebut dengan arti. Allah tentu yang paling tahu. Ia memberikan waktu untuk menjawab rasa ragu. Allah menghadirkan sepi agar kita terdorong untuk menemukan tempat kembali. Bertemu lalu kemudian bersatu, cinta tidak sesederhana itu. Nilainya bertambah seiring dengan perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan. Tidak ada cinta sejati yang tidak diuji. Jika kita sepakat bahwa cinta seperti itu tidak mudah didapat, maka kita pun yakin apa yang sedang kita jalani akan membawa kita semakin dekat.


Yogyakarta, 18 September 2016

Thursday, September 15, 2016

A Letter from the Bridesmaid

Dear friends,

Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menjadi bridesmaid di salah satu hari bersejarah dalam hidup kalian dan perhatian yang dicurahkan kepada saya selaku bridesmaid di pernikahan demi pernikahan sahabat-sahabat saya.

If you ever wonder how being a bridesmaid is like, let me tell you...

Ratna-Hadza's Wedding
Menjadi bridesmaid adalah momen yang indah. Pada hari itu, saya melihat sahabat saya tampil dengan cantik dan penuh pesona. Perhiasannya lebih dari sekadar polesan make up, baju spesial dan segenap atribut yang dipakai. Hal yang membuatnya bersinar adalah perjuangannya untuk sampai ke hari itu.

Menjadi bridesmaid adalah momen yang bahagia. Senyum, tawa dan air mata haru mengisi hari itu. Buah dari jatuh-bangun yang telah dilalui, jawaban dari hari-hari yang diisi dengan kesabaran tiada henti. Kebahagiaan yang turut dirasakan oleh segenap hadirin. Saya pun menjadi saksi, bahwa Tuhan tidak pernah ingkar janji.

Menjadi bridesmaid adalah momen yang berharga. Hari itu salah satu perjanjian yang amat kuat diikrarkan. Sahabat saya resmi terikat dengan seseorang, yang mulai hari itu dan seterusnya menjadi teman hidupnya. Hari itu adalah awal dari hari-hari juang yang akan mereka isi bersama hingga ke surga.

Menjadi bridesmaid adalah momen peralihan. Setelahnya, hidup tidak akan sama lagi. Status dan hari-hari setelahnya akan berubah. Hal yang tidak hanya berlaku bagi sahabat saya yang menikah, tetapi juga bagi saya. Saya pun secara sadar harus melakukan penyesuaian, menjadi sahabat dari seseorang yang telah menikah.

Menjadi bridesmaid adalah momen yang penuh dengan doa. Di balik pertanyaan-pertanyaan dan pernyataan-pernyataan yang menghampiri, terselip doa-doa yang mengiringi. Oleh karena itu, saya juga berterimakasih untuk doa-doa yang terhimpun. Saya aminkan doa-doa baik kalian.


With love,

The bridesmaid

Monday, May 30, 2016

Hati dan Hati

Ini adalah refleksi perjalanan saya beberapa minggu terakhir. Perjalanan untuk mencari jawaban demi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang hinggap di benak. Saya teringat pada pernyataan teman kuliah saya. Ia mengatakan bahwa petunjuk itu dijemput, diupayakan. Pernyataan yang terlontar satu atau dua tahun lalu dan masih saya ingat, bahkan menjadi sangat berarti dalam hidup saya belakangan ini. Ketika bimbang, kita meminta petunjuk pada Allah. Namun, kita acap kali lupa untuk menyertai doa dengan upaya untuk menjemput petunjuk itu sendiri.

Saya kadang bertanya-tanya, "Mengapa manusia dihadapkan pada kebingungan? Mengapa sudah berdoa tetapi masih ragu? Mengapa tidak yakin pada sesuatu yang nampak menjanjikan? Mengapa bisa mantap pada sesuatu yang abstrak? Apakah yang dianggap petunjuk itu benar-benar petunjuk atau hanya halusinasi yang timbul dari hasrat diri?" Hingga saya sampai pada satu titik dimana saya bertanya pada diri sendiri, "Allah akan memberikan petunjuk pada hati manusia, lalu sudah siapkah hati ini menerimanya? Sudah pantaskah hati ini mendapatkan petunjuk?"

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mendorong saya untuk menelisik kondisi hati dan menelusuri masa lalu. Berusaha untuk jujur mengenai isi hati dan mengakui apa-apa yang semestinya dihindari tetapi masih sering hinggap di hati. Melihat kembali niat dari apa-apa yang telah dan sedang diperbuat. Menakar kedekatan dengan Sang Pemilik Hati. Mengingat kembali kejadian-kejadian kelam yang menggelapkan hati dan kebaikan-kebaikan Allah yang tanpa batas. Belajar bagaimana hati dikuatkan, dilemahkan, dibolak-balikkan. Menyadari bahwa hati di bawah kuasa Sang Ilahi.

Hati adalah kunci. Hati yang baik adalah pembuka akhlak yang baik dan pintu-pintu kebaikan lainnya. Jika hati menjadi kunci pribadi, maka tiap-tiap diri bertanggungjawab untuk merawat kuncinya dengan sebaik mungkin. Jangan sampai berkarat, apalagi hilang. Hati adalah kunci nilai amalan-amalan, karena niat yang sesungguhnya tertanam di hati. Hanya Allah dan diri yang mengetahui secara pasti. Pun hati menjadi kunci yang dapat membuka hati lainnya. Betapa pentingnya memerhatikan dan memelihara hati sebaik mungkin, tanpa henti.
 
Perjalanan saya belum usai, tetapi setidaknya saya belajar bahwa hati harus dijaga sebaik mungkin selama menempuh perjalanan ini. Saya mengamini perkataan adik lelaki saya, bahwa perlakuan orang lain (atau semacamnya) tidak akan memengaruhi hati apabila diri mampu menjaganya dengan baik. Pasrahkan hati pada Sang Penguasa Hati, biarkan Ia menuntun hati yang kemudian akan mengarahkan diri dalam melangkah. Allah akan menjaga diri yang menjaga hatinya untuk dekat denganNya, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.


Yogyakarta, 30 Mei 2016



Subuh di Geger Kalong Girang, 6 Mei 2016

Tuesday, March 1, 2016

Dia, Mama Tercinta


19 Mei 2015, Universitas Gadjah Mada meluluskan segenap mahasiswanya, dan saya termasuk di antara para wisudawan/wisudawati hari itu. Namun bukan momen tersebut yang hendak saya ceritakan, melainkan saya ingin berbagi sedikit tentang sosok yang didikannya membawa saya hingga ke titik tersebut. Sosok yang pengaruhnya teramat besar pada diri saya, sosok yang menjadi role model saya dalam menjalani kehidupan. Beliau adalah mama saya.


Setiap anak menyimpan kesan tersendiri mengenai ibunya, perempuan yang melahirkannya ke dunia setelah perjuangan yang tidak main-main. Begitu pula dengan saya. Mama adalah ibu sekaligus sahabat bagi saya. Beliau adalah sosok yang bisa menempatkan diri sebagai pendidik, juga teman berbagi cerita. Pelajaran yang saya dapatkan tidak hanya dari apa yang terucap secara lisan saja, tetapi juga dari bagaimana beliau menjalani hidup. Saya menyaksikannya.
Dari beliau, saya belajar apa itu sebenar-benarnya cinta... Cinta yang diisi dengan perjuangan, kesabaran, pengorbanan, keikhlasan dan tawakal. Cinta yang mengutamakan kebaikan orang yang dicintai. Cinta yang dipenuhi doa, dan dikembalikan pada Yang Maha Kuasa.
Masih lekat dalam ingatan saya, memori-memori masa kecil yang membahagiakan. Hal yang dibayar dengan perjuangan keras mama dan papa. Saya ingat dulu mama kadang membawa saya dan adik saya ketika beliau bekerja. Saat keluarga kami berada di titik terendah, mama adalah sosok yang berdiri dengan tegar dan tetap setia mendampingi papa. Beliau juga memastikan saya dan adik saya tetap berkembang dengan baik, meskipun beliau harus mengorbankan kesenangan-kesenangan pribadinya untuk itu.

Ketika saya memasuki masa remaja, mama mulai melatih saya untuk menjadi pribadi yang mandiri. Mulai dari mendaftar sekolah sendiri, hingga mendukung saya untuk mencari uang jajan tambahan sendiri dengan membuat coklat untuk dijual atau memasang payet pada baju. Mama melatih saya perlahan, beliau masih mengantar saya ketika mendaftar sekolah dan membantu membuat coklat atau memasang payet. Beliau bahkan menyelesaikan urusan coklat dan payet ketika saya tertidur.
Beliau menanamkan bahwa saya harus menjadi perempuan yang mandiri, kuat dan berdaya. Sehingga apabila keluarga saya nanti sedang menghadapi masa sulit, saya dapat ikut menopang dan mempertahankannya. Pun ketika Allah melapangkan kehidupan keluarga saya kelak, saya bisa meringankan beban orang lain yang sedang kesulitan.
Mama menerapkan prinsip transparan dan bertanggungjawab. Beliau mengizinkan saya tidak berangkat sekolah karena belum siap mengikuti ulangan salah satu mata pelajaran. Konsekuensinya jelas, saya harus menghubungi guru yang bersangkutan dan mengusahakan ulangan/tugas pengganti. Ketika teman-teman perempuan saya sulit mendapatkan izin keluar malam, beliau mengizinkan saya pergi hingga malam hari sesekali. Terbuka dan fleksibel menjadi pola interaksi kami.

Saat saya berstatus sebagai mahasiswa, mama melepaskan saya dengan supervisi dari jauh. Beliau memberikan kebebasan kepada saya untuk berkegiatan di kampus dan luar kampus. Beliau mempercayakan saya untuk menempuh jalan saya sendiri. Apabila saya terpeleset atau bahkan terperosok, beliau memberikan dorongan supaya saya mampu bangkit sendiri dan kembali melanjutkan perjalanan. Beliau mengajarkan saya untuk tetap optimis, karena pertolongan Allah itu dekat dan nyata.

Ada banyak hal dari mama yang tetap terngiang dalam benak saya hingga kini. Salah satunya adalah konsep (maaf) "buang air" yang diajarkan oleh beliau: Orang kalau sudah buang air ya sudah, selesai. Dilanjutkan dengan melakukan aktivitas lain dan tidak perlu diingat-ingat perkara buang airnya. Kira-kira seperti itu pula saat kita berbuat baik kepada orang lain, direlakan saja, tidak usah diungkit-ungkit lagi.

Sekarang, mama hampir melepas saya sepenuhnya. Namun pelajaran-pelajaran yang beliau berikan telah menjadi fondasi dalam diri saya. Beliau adalah sosok yang tiada henti berusaha untuk menjadi mama yang baik, dan mendoakan agar saya diberikan apa-apa yang terbaik menurut Allah. Semoga kebaikan-kebaikan yang ada pada diri saya mengalir sebagai pahala yang tiada henti pula baginya, selamanya.


Mama, remember all my life
You showed me love, you sacrificed
Think of those young and early days
How I've changed along the way 
(Il Divo - Mama)

I learned from you that I do not crumble
I learned that strength is something you choose
All of the reasons to keep on believing
There's no question, that's a lesson
I learned from you
(Miley Cyrus & Billy Ray Cyrus - I Learned From You)