Tuesday, March 1, 2016

Dia, Mama Tercinta

19 Mei 2015, Universitas Gadjah Mada meluluskan segenap mahasiswanya, dan saya termasuk di antara para wisudawan/wisudawati hari itu. Namun bukan momen tersebut yang hendak saya ceritakan, melainkan saya ingin berbagi sedikit tentang sosok yang didikannya membawa saya hingga ke titik tersebut. Sosok yang pengaruhnya teramat besar pada diri saya, sosok yang menjadi role model saya dalam menjalani kehidupan. Beliau adalah mama saya.


Setiap anak menyimpan kesan tersendiri mengenai ibunya, perempuan yang melahirkannya ke dunia setelah perjuangan yang tidak main-main. Begitu pula dengan saya. Mama adalah ibu sekaligus sahabat bagi saya. Beliau adalah sosok yang bisa menempatkan diri sebagai pendidik, juga teman berbagi cerita. Pelajaran yang saya dapatkan tidak hanya dari apa yang terucap secara lisan saja, tetapi juga dari bagaimana beliau menjalani hidup. Saya menyaksikannya.
Dari beliau, saya belajar apa itu sebenar-benarnya cinta... Cinta yang diisi dengan perjuangan, kesabaran, pengorbanan, keikhlasan dan tawakal. Cinta yang mengutamakan kebaikan orang yang dicintai. Cinta yang dipenuhi doa, dan dikembalikan pada Yang Maha Kuasa.
Masih lekat dalam ingatan saya, memori-memori masa kecil yang membahagiakan. Hal yang dibayar dengan perjuangan keras mama dan papa. Saya ingat dulu mama kadang membawa saya dan adik saya ketika beliau bekerja. Saat keluarga kami berada di titik terendah, mama adalah sosok yang berdiri dengan tegar dan tetap setia mendampingi papa. Beliau juga memastikan saya dan adik saya tetap berkembang dengan baik, meskipun beliau harus mengorbankan kesenangan-kesenangan pribadinya untuk itu.

Ketika saya memasuki masa remaja, mama mulai melatih saya untuk menjadi pribadi yang mandiri. Mulai dari mendaftar sekolah sendiri, hingga mendukung saya untuk mencari uang jajan tambahan sendiri dengan membuat coklat untuk dijual atau memasang payet pada baju. Mama melatih saya perlahan, beliau masih mengantar saya ketika mendaftar sekolah dan membantu membuat coklat atau memasang payet. Beliau bahkan menyelesaikan urusan coklat dan payet ketika saya tertidur.
Beliau menanamkan bahwa saya harus menjadi perempuan yang mandiri, kuat dan berdaya. Sehingga apabila keluarga saya nanti sedang menghadapi masa sulit, saya dapat ikut menopang dan mempertahankannya. Pun ketika Allah melapangkan kehidupan keluarga saya kelak, saya bisa meringankan beban orang lain yang sedang kesulitan.
Mama menerapkan prinsip transparan dan bertanggungjawab. Beliau mengizinkan saya tidak berangkat sekolah karena belum siap mengikuti ulangan salah satu mata pelajaran. Konsekuensinya jelas, saya harus menghubungi guru yang bersangkutan dan mengusahakan ulangan/tugas pengganti. Ketika teman-teman perempuan saya sulit mendapatkan izin keluar malam, beliau mengizinkan saya pergi hingga malam hari sesekali. Terbuka dan fleksibel menjadi pola interaksi kami.

Saat saya berstatus sebagai mahasiswa, mama melepaskan saya dengan supervisi dari jauh. Beliau memberikan kebebasan kepada saya untuk berkegiatan di kampus dan luar kampus. Beliau mempercayakan saya untuk menempuh jalan saya sendiri. Apabila saya terpeleset atau bahkan terperosok, beliau memberikan dorongan supaya saya mampu bangkit sendiri dan kembali melanjutkan perjalanan. Beliau mengajarkan saya untuk tetap optimis, karena pertolongan Allah itu dekat dan nyata.

Ada banyak hal dari mama yang tetap terngiang dalam benak saya hingga kini. Salah satunya adalah konsep (maaf) "buang air" yang diajarkan oleh beliau: Orang kalau sudah buang air ya sudah, selesai. Dilanjutkan dengan melakukan aktivitas lain dan tidak perlu diingat-ingat perkara buang airnya. Kira-kira seperti itu pula saat kita berbuat baik kepada orang lain, direlakan saja, tidak usah diungkit-ungkit lagi.

Sekarang, mama hampir melepas saya sepenuhnya. Namun pelajaran-pelajaran yang beliau berikan telah menjadi fondasi dalam diri saya. Beliau adalah sosok yang tiada henti berusaha untuk menjadi mama yang baik, dan mendoakan agar saya diberikan apa-apa yang terbaik menurut Allah. Semoga kebaikan-kebaikan yang ada pada diri saya mengalir sebagai pahala yang tiada henti pula baginya, selamanya.

Mama, remember all my life
You showed me love, you sacrificed
Think of those young and early days
How I've changed along the way 
(Il Divo - Mama)

I learned from you that I do not crumble
I learned that strength is something you choose
All of the reasons to keep on believing
There's no question, that's a lesson
I learned from you
(Miley Cyrus & Billy Ray Cyrus - I Learned From You)

Monday, February 29, 2016

21 April 2014

Tulisan ini saya buat untuk saudari-saudari saya tercinta, yang sedang meniti hidup, menuju masa depan yang penuh kejutan.

Ada yang mengatakan perempuan itu sulit dipahami, dan sepertinya hal tersebut benar adanya. Jangan salahkan para laki-laki apabila kadang mereka tidak memahami kita. Bukankah kita juga kadang kesulitan memahami pikiran, perasaan dan perilaku sesama perempuan? Atau bahkan kesulitan memahami diri kita sendiri?

Satu hal yang jelas kita pahami bersama adalah kita terlahir sebagai perempuan. Ya, kita terlahir sebagai perempuan yang secara kodrati, sampai kapanpun, akan berbeda dengan laki-laki. Bukankah jika Tuhan mau, Ia bisa saja menyamakan kita dengan para laki-laki? Lalu jika itu terjadi, akankah ada laki-laki dan perempuan di dunia ini? Tidak.

Sebagai perempuan, kita diberi kelebihan atas para laki-laki. Begitu pula sebaliknya, mereka memiliki kelebihan atas diri kita. Kita harus mengakui itu. Emansipasi tidak berarti bahwa kita mampu melakukan segalanya dan tidak lagi membutuhkan laki-laki dalam kehidupan kita, karena sejatinya perempuan dan laki-laki itu saling melengkapi.

Emansipasi membuka pintu bagi kita untuk mengembangkan diri layaknya para laki-laki. Kita diberikan akses untuk meningkatkan kapasitas diri dan berperan dalam berbagai sektor kehidupan. Dengan segenap potensi yang dimiliki dan berbagai fasilitas yang ada, perempuan dapat menghasilkan karya-karya yang mengagumkan.

Sewajarnya jika di kemudian hari, ketika memasuki fase baru dalam hidup, kita akan menghadapi suatu dilema. Mengabdi sepenuhnya sebagai seorang istri dan ibu atau berkeluarga dengan tetap melanjutkan karier. Sebagian dari kita mungkin sudah mengambil keputusan mengenai hal ini, tetapi sebagian yang lain masih terjebak dalam kebimbangan.

Apapun yang akan kita jalani di masa yang akan datang, entah itu adalah pilihan atau paksaan keadaan, pastikan kita menjalaninya dengan segenap kebesaran jiwa dan kerendahan hati yang kita miliki. Hidup untuk membangun kehidupan yang lebih baik, tidak hanya untuk kesenangan diri kita sendiri.

Seribu jalan menuju Roma, tujuan yang sama tidak selalu ditempuh melalui jalan yang sama. Lima atau sepuluh tahun mendatang, kita mungkin hidup di tempat yang berbeda, dalam lingkungan yang berbeda, dengan gaya hidup yang berbeda. Saudariku, jika kita sampai pada masa itu, bisakah kita saling menerima dan menghargai sebagai sesama perempuan?

Kita sama-sama berjuang, meski dengan cara yang berbeda. Tidak ada perjuangan yang mudah, Saudariku. Ada rintangan-rintangan yang menunggu di setiap jalan berliku yang kita tempuh. Perjuangan yang mungkin akan memaksa kita untuk mengorbankan seluruh harta, jiwa dan raga. Oleh karenanya, bisakah kita saling menguatkan?

Salah satu daripada cita-cita yang hendak kusebarkan ialah: Hormatilah segala yang hidup, hak-haknya, perasaannya, baik tidak terpaksa baik pun karena terpaksa. (R.A. Kartini)

Friday, February 12, 2016

Hujan yang Sama

Rintik hujan di luar, sementara kita masih duduk berhadapan di salah satu sudut ruangan. Kamu menyeruput kopi sembari melempar pandangan ke luar jendela. Kamu tampak tenang, mendengarkan, hingga tiba giliranmu bercerita. Kamu mulai gelisah, berusaha untuk menelan kata-kata yang hendak keluar. Benar saja. Kali ini kamu tidak berhasil. Sudah terlampau banyak kata yang kamu telan kembali. Kamu pun mulai berkeluh-kesah, tentang hujan.

Hujan yang mengisi hari-harimu. Hujan yang membuatmu jatuh sakit. Hujan yang membuatmu cemas, khawatir akan datangnya badai. Hujan yang kadang memaksamu terjebak di suatu tempat. Hujan yang menjadikan langkahmu terasa berat untuk melanjutkan perjalanan. Hujan yang ingin kamu hindari. Hujan yang kamu harap akan berhenti, dan tidak turun lagi.

Aku tersenyum simpul. Berbisik dalam hati, berterimakasih pada hujan.

Hujan yang ingin menghapus air matamu. Hujan yang ingin mengusap peluhmu. Hujan yang ingin melindungimu dari sengatan matahari. Hujan yang ingin menjagamu dari debu-debu yang mengganggu. Hujan yang ingin mendinginkan suasana harimu. Hujan yang ingin menenteramkan hatimu. Hujan yang selalu datang kembali. Hujan yang bersikeras menunggu kamu mau berjalan bersamanya sesekali, dan mengharapkan kamu akan menerimanya suatu hari.


Yogyakarta, 12 Februari 2016

Tuesday, January 26, 2016

Tut Wuri Handayani


Ungkapan yang tidak asing bukan? Bahkan kita sudah akrab dengannya sejak duduk di bangku sekolah dasar. "Tut Wuri Handayani" adalah satu dari trilogi yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara. Hal yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita benar-benar memahami ungkapan tersebut dan menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari.

Tendensi sebagian manusia adalah menilai bahwa yang 'hebat' adalah yang berada di depan. Konstruksi pemikiran semacam ini perlu dikaji ulang, pasalnya mengakibatkan manusia terpatok pada tujuan (ingin menjadi yang terdepan) tanpa menghargai proses atau esensinya. Hal yang dapat membuat ia yang berada di depan menjadi tinggi hati, dan menyebabkan mereka yang berjuang di belakang menarik diri.

Coba luangkan waktu untuk menelisik sisi lain dari 'orang hebat': siapa saja yang berpengaruh baginya, apa peran orang-orang di sekitarnya, dan bagaimana proses perjuangannya. Seorang manusia tidak bisa maju sendiri, ia butuh manusia lain dalam berproses. Bukankah sudah menjadi rahasia umum jika manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan satu sama lain?

Allah memang Maha Adil. Ia memantapkan hati sebagian dari hambaNya untuk tetap berada di belakang. Padahal jika Ia berkehendak, bukan tidak mungkin seluruh manusia di muka bumi saling mencederai agar bisa berada di depan. Sungguh perencanaan yang begitu sempurna, tanpa cela.

Seseorang menjadi 'hebat' karena ada sekumpulan orang luar biasa di belakangnya. Jangan pikir mereka adalah orang-orang yang tidak mampu berada di depan. Tidak jarang mereka adalah orang-orang yang memang memilih untuk tetap berada di belakang dan terus berjuang dalam keremangan, tidak semua orang melihat mereka secara jelas.

Kekuatan dan pengorbanan mereka yang ada di belakang bisa jadi jauh lebih besar dari ia yang ada di depan. Berikanlah apresiasi sebaik mungkin, karena mereka pantas mendapatkannya. Berbanggalah apabila menjadi bagian dari mereka, karena manusia boleh jadi tidak melihat, tetapi Ia Maha Mengetahui.

Monday, January 4, 2016

Filosofi Lilin

Disampaikan oleh seorang teman kala rapat dan saya terkagum dibuatnya...

Lilin hanyalah sesuatu yang sederhana, tetapi mampu memberi cahaya. Hal yang perlu dipahami adalah bahwa ia akan menyinari sekitarnya ketika dalam kegelapan. Untuk itu, ia harus terbakar, meleleh, habis. Sayang, kemampuannya terbatas pada suatu sudut saja, bercahaya pada titik tertentu. Namun, ketika ada sekumpulan lilin, maka suatu tempat akan bersinar. Ketika ada lebih banyak lilin, maka daratan akan berpijar.

Kita hanyalah manusia biasa, tetapi mampu membawa pencerahan. Kita memberi pemahaman kepada mereka yang masih belum mengerti, bukan menggarami lautan. Untuk itu, kita harus rela menanggung sakit, berjuang sampai habis. Satu manusia mungkin mampu membawa perbaikan pada lingkungan tertentu. Namun, ketika sekelompok orang yang berusaha, perbaikan tersebut akan kian nyata. Ketika ada semakin banyak manusia turun tangan, maka perbaikan menjadi niscaya.


Oh... Manakala mentari tua
Lelah berpijar
Oh... Manakala bulan nan genit
Enggan tersenyum
Berkerut-kerut tiada berseri
Tersendat-sendat merayap dalam kegelapan
Hitam kini hitam nanti
Gelap kini akankah berganti
Engkau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau mengganti
Sanggupkah kau memberi
Seberkas cahaya
Engkau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau berpijar
Sanggupkah kau menyengat
Seisi dunia
(Chrisye, Lilin-lilin Kecil)