Tuesday, June 21, 2016

Asdul #2 dan Reuni Istimewa: Di Balik Layar (1)

2016. Tahun ini menjadi awal babak baru bagi Nakula-Srikandi 6, sebutan untuk keluarga Rumah Kepemimpinan a.k.a PPSDMS regional Yogyakarta angkatan 6. Dulu -ketika masa pembinaan- hubungan kami biasa-biasa saja, relatif cuek dan kadang tidak rukun. Sekarang, Alhamdulillah, sudah naik level engagement-nya.

Ada dua hal yang ingin saya abadikan melalui tulisan, meski mungkin dua hal tersebut sebenarnya sudah membekas dalam benak masing-masing dari kami. Tsah. Dua hal yang saya maksud adalah terkait forum online Assalamu'alaikum Dulur #2 dan Reuni Istimewa, yang kebetulan saya terlibat di dalamnya.

Sepotong cerita di balik penyelenggaraan Asdul #2 dan Reuni Istimewa...

Syarikat Syahdu

Akhir Desember 2015. Saya menerima pesan via WhatsApp dari nomor tidak dikenal, yang kemudian diketahui adalah nomor Chaidir Arsyan Adlan. Isi pesannya adalah ajakan untuk menjadi tim admin Assalamu'alaikum Dulur #2 bersama dia dan Moh Faza Rosyada, yang juga tidak saya kenal waktu itu. Saya membedakan antara "saling tahu" dan "saling kenal". Bagi saya, saling tahu tidak lantas saling kenal tetapi kalau sudah saling kenal berarti secara otomatis saling tahu. Singkat cerita, karena lupa waktu itu dapat ilham apa, saya menyanggupi untuk bergabung dan mengajukan Citra Kurnia Solihat -teman dalam suka dan nestapa- sebagai admin juga. Nama tim kami adalah Syarikat Syahdu. Ide nama itu muncul dari Adlan dan diamini saja oleh kami bertiga daripada repot cari ide lain. Orkes Asdul #2 bersama Syarikat Syahdu pun dimulai.


Assalamu'alaikum Dulur adalah forum online untuk berbagi kabar terkini dan inspirasi via grup WhatsApp Nakula-Srikandi 6. Jadi, ada satu yang menjadi narasumber dan satu yang menjadi moderator. Forum ini digagas oleh tim admin sebelum kami: Ayunda, Fina, Hamid, dan Phisca -sesuai urutan abjad. Berhubung pembahasan utama adalah apa yang terjadi di balik forum itu, penjelasan mengenai Asdul cukup sekian saja.

Kami mulai menjalankan tugas dengan melakukan evaluasi dan sharing dengan tim admin sebelumnya. Dari situ, kami sepakat untuk melakukan beberapa modifikasi. Intisari tetap sama, hanya saja dibawakan dengan warna yang berbeda. Sejak awal, kami melakukan pembagian tugas utama dan plotting narasumber. Kami berbagi ide dan kreativitas untuk merancang Asdul #2. Kami terbiasa untuk saling memberikan feedback atas ide maupun kreativitas yang muncul di grup Syarikat Syahdu agar penyajian lebih optimal, dan ini berlangsung sejak awal hingga akhir. Di tengah perjalanan menuju episode perdana Asdul #2, saya dengan segan bertanya, "Adlan dan Faza masih di Jogja?" Kami sudah berada di kota yang berbeda-beda rupanya, kecuali saya dan Cikun. Ternyata, kami belum saling mengenal.

Setelah pelaksanaan episode perdana, kami sepakat untuk melangsungkan Asdul internal di grup kami, sekaligus uji coba aturan main baru yang ujungnya gagal diadaptasi. Kan tidak kece kalau tim admin sendiri ternyata tidak saling mengenal. Ehe. Kami secara bergantian menjadi narasumber dan moderator. Selanjutnya kami menjadi lebih sering berbagi cerita, mulai dari pembahasan yang agak sampah sampai diskusi serius. Notifikasi dari grup Syarikat Syahdu muncul setiap hari pada masanya, bahkan kami pernah melakukan voice call dari empat kota yang berbeda selama berjam-jam. Perlahan kami mulai memahami satu sama lain. Kesibukan satu sama lain, kebiasaan satu sama lain, karakter satu sama lain, mimpi satu sama lain. Fondasi teamwork yang solid terbangun dan kami pun naik level, tantangan demi tantangan datang silih-berganti.

Tantangan pertama adalah kesibukan kami masing-masing yang naik-turun, sehingga tidak jarang Asdul #2 berjalan dengan admin yang tidak lengkap atau kami keteteran melengkapi to-do-list persiapannya. Tantangan kedua adalah Adlan yang pergi semedi -semoga berbuah wangsit, sehingga tinggallah kami bertiga menerima nasib. Tantangan ketiga adalah kesibukan narasumber-moderator serta agenda-agenda yang muncul di tengah perjalanan, sehingga harus banyak reschedule dan kejar tayang di akhir. Tantangan-tantangan tersebut, juga lain-lainnya, tidak menyurutkan kami dari menyemangati dan mendukung satu sama lain untuk segala aktivitas yang kami jalani. Masih lekat dalam ingatan saya bagaimana kami saling mem-backup demi berjalannya Asdul #2, bagaimana kami berusaha untuk saling mengisi selama bertugas.

Lima bulan berlalu, Asdul #2 tiba pada episode terakhirnya. Tuntas sudah sepuluh episode Asdul #2 bersama Syarikat Syahdu, tim virtual pertama saya. Meski kami menjalankan tugas -bahkan berkenalan- melalui dunia maya, ada hal yang mampu menguatkan kami hingga akhir. Kami menghadirkan hati, kepercayaan dan komitmen dalam cerita yang diurai, semangat yang dibagi dan tugas yang dijalankan. Well, virtual team does work.


Happy ending! Kami akhirnya foto berempat di dunia nyata! 



N.B. Yang terjadi di grup Syarikat Syahdu setelah menutup episode terakhir:

1. Solihat dan Rosyada ribut perihal audio Syahdu FM yang mau di-share;
2. Ariani berlinang air mata;
3. Adlan read dan diam, entah sedang apa.

Monday, May 30, 2016

Hati dan Hati

Ini adalah refleksi perjalanan saya beberapa minggu terakhir. Perjalanan untuk mencari jawaban demi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang hinggap di benak. Saya teringat pada pernyataan teman kuliah saya. Ia mengatakan bahwa petunjuk itu dijemput, diupayakan. Pernyataan yang terlontar satu atau dua tahun lalu dan masih saya ingat, bahkan menjadi sangat berarti dalam hidup saya belakangan ini. Ketika bimbang, kita meminta petunjuk pada Allah. Namun, kita acap kali lupa untuk menyertai doa dengan upaya untuk menjemput petunjuk itu sendiri.

Saya kadang bertanya-tanya, "Mengapa manusia dihadapkan pada kebingungan? Mengapa sudah berdoa tetapi masih ragu? Mengapa tidak yakin pada sesuatu yang nampak menjanjikan? Mengapa bisa mantap pada sesuatu yang abstrak? Apakah yang dianggap petunjuk itu benar-benar petunjuk atau hanya halusinasi yang timbul dari hasrat diri?" Hingga saya sampai pada satu titik dimana saya bertanya pada diri sendiri, "Allah akan memberikan petunjuk pada hati manusia, lalu sudah siapkah hati ini menerimanya? Sudah pantaskah hati ini mendapatkan petunjuk?"

Pertanyaan-pertanyaan tersebut mendorong saya untuk menelisik kondisi hati dan menelusuri masa lalu. Berusaha untuk jujur mengenai isi hati dan mengakui apa-apa yang semestinya dihindari tetapi masih sering hinggap di hati. Melihat kembali niat dari apa-apa yang telah dan sedang diperbuat. Menakar kedekatan dengan Sang Pemilik Hati. Mengingat kembali kejadian-kejadian kelam yang menggelapkan hati dan kebaikan-kebaikan Allah yang tanpa batas. Belajar bagaimana hati dikuatkan, dilemahkan, dibolak-balikkan. Menyadari bahwa hati di bawah kuasa Sang Ilahi.

Hati adalah kunci. Hati yang baik adalah pembuka akhlak yang baik dan pintu-pintu kebaikan lainnya. Jika hati menjadi kunci pribadi, maka tiap-tiap diri bertanggungjawab untuk merawat kuncinya dengan sebaik mungkin. Jangan sampai berkarat, apalagi hilang. Hati adalah kunci nilai amalan-amalan, karena niat yang sesungguhnya tertanam di hati. Hanya Allah dan diri yang mengetahui secara pasti. Pun hati menjadi kunci yang dapat membuka hati lainnya. Betapa pentingnya memerhatikan dan memelihara hati sebaik mungkin, tanpa henti.

Perjalanan saya belum usai, tetapi setidaknya saya belajar bahwa hati harus dijaga sebaik mungkin selama menempuh perjalanan ini. Saya mengamini perkataan adik lelaki saya, bahwa perlakuan orang lain (atau semacamnya) tidak akan memengaruhi hati apabila diri mampu menjaganya dengan baik. Pasrahkan hati pada Sang Penguasa Hati, biarkan Ia menuntun hati yang kemudian akan mengarahkan diri dalam melangkah. Allah akan menjaga diri yang menjaga hatinya untuk dekat denganNya, dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.


Yogyakarta, 30 Mei 2016



Subuh di Geger Kalong Girang, 6 Mei 2016

Tuesday, March 1, 2016

Dia, Mama Tercinta

19 Mei 2015, Universitas Gadjah Mada meluluskan segenap mahasiswanya, dan saya termasuk di antara para wisudawan/wisudawati hari itu. Namun bukan momen tersebut yang hendak saya ceritakan, melainkan saya ingin berbagi sedikit tentang sosok yang didikannya membawa saya hingga ke titik tersebut. Sosok yang pengaruhnya teramat besar pada diri saya, sosok yang menjadi role model saya dalam menjalani kehidupan. Beliau adalah mama saya.


Setiap anak menyimpan kesan tersendiri mengenai ibunya, perempuan yang melahirkannya ke dunia setelah perjuangan yang tidak main-main. Begitu pula dengan saya. Mama adalah ibu sekaligus sahabat bagi saya. Beliau adalah sosok yang bisa menempatkan diri sebagai pendidik, juga teman berbagi cerita. Pelajaran yang saya dapatkan tidak hanya dari apa yang terucap secara lisan saja, tetapi juga dari bagaimana beliau menjalani hidup. Saya menyaksikannya.
Dari beliau, saya belajar apa itu sebenar-benarnya cinta... Cinta yang diisi dengan perjuangan, kesabaran, pengorbanan, keikhlasan dan tawakal. Cinta yang mengutamakan kebaikan orang yang dicintai. Cinta yang dipenuhi doa, dan dikembalikan pada Yang Maha Kuasa.
Masih lekat dalam ingatan saya, memori-memori masa kecil yang membahagiakan. Hal yang dibayar dengan perjuangan keras mama dan papa. Saya ingat dulu mama kadang membawa saya dan adik saya ketika beliau bekerja. Saat keluarga kami berada di titik terendah, mama adalah sosok yang berdiri dengan tegar dan tetap setia mendampingi papa. Beliau juga memastikan saya dan adik saya tetap berkembang dengan baik, meskipun beliau harus mengorbankan kesenangan-kesenangan pribadinya untuk itu.

Ketika saya memasuki masa remaja, mama mulai melatih saya untuk menjadi pribadi yang mandiri. Mulai dari mendaftar sekolah sendiri, hingga mendukung saya untuk mencari uang jajan tambahan sendiri dengan membuat coklat untuk dijual atau memasang payet pada baju. Mama melatih saya perlahan, beliau masih mengantar saya ketika mendaftar sekolah dan membantu membuat coklat atau memasang payet. Beliau bahkan menyelesaikan urusan coklat dan payet ketika saya tertidur.
Beliau menanamkan bahwa saya harus menjadi perempuan yang mandiri, kuat dan berdaya. Sehingga apabila keluarga saya nanti sedang menghadapi masa sulit, saya dapat ikut menopang dan mempertahankannya. Pun ketika Allah melapangkan kehidupan keluarga saya kelak, saya bisa meringankan beban orang lain yang sedang kesulitan.
Mama menerapkan prinsip transparan dan bertanggungjawab. Beliau mengizinkan saya tidak berangkat sekolah karena belum siap mengikuti ulangan salah satu mata pelajaran. Konsekuensinya jelas, saya harus menghubungi guru yang bersangkutan dan mengusahakan ulangan/tugas pengganti. Ketika teman-teman perempuan saya sulit mendapatkan izin keluar malam, beliau mengizinkan saya pergi hingga malam hari sesekali. Terbuka dan fleksibel menjadi pola interaksi kami.

Saat saya berstatus sebagai mahasiswa, mama melepaskan saya dengan supervisi dari jauh. Beliau memberikan kebebasan kepada saya untuk berkegiatan di kampus dan luar kampus. Beliau mempercayakan saya untuk menempuh jalan saya sendiri. Apabila saya terpeleset atau bahkan terperosok, beliau memberikan dorongan supaya saya mampu bangkit sendiri dan kembali melanjutkan perjalanan. Beliau mengajarkan saya untuk tetap optimis, karena pertolongan Allah itu dekat dan nyata.

Ada banyak hal dari mama yang tetap terngiang dalam benak saya hingga kini. Salah satunya adalah konsep (maaf) "buang air" yang diajarkan oleh beliau: Orang kalau sudah buang air ya sudah, selesai. Dilanjutkan dengan melakukan aktivitas lain dan tidak perlu diingat-ingat perkara buang airnya. Kira-kira seperti itu pula saat kita berbuat baik kepada orang lain, direlakan saja, tidak usah diungkit-ungkit lagi.

Sekarang, mama hampir melepas saya sepenuhnya. Namun pelajaran-pelajaran yang beliau berikan telah menjadi fondasi dalam diri saya. Beliau adalah sosok yang tiada henti berusaha untuk menjadi mama yang baik, dan mendoakan agar saya diberikan apa-apa yang terbaik menurut Allah. Semoga kebaikan-kebaikan yang ada pada diri saya mengalir sebagai pahala yang tiada henti pula baginya, selamanya.

Mama, remember all my life
You showed me love, you sacrificed
Think of those young and early days
How I've changed along the way 
(Il Divo - Mama)

I learned from you that I do not crumble
I learned that strength is something you choose
All of the reasons to keep on believing
There's no question, that's a lesson
I learned from you
(Miley Cyrus & Billy Ray Cyrus - I Learned From You)

Monday, February 29, 2016

21 April 2014

Tulisan ini saya buat untuk saudari-saudari saya tercinta, yang sedang meniti hidup, menuju masa depan yang penuh kejutan.

Ada yang mengatakan perempuan itu sulit dipahami, dan sepertinya hal tersebut benar adanya. Jangan salahkan para laki-laki apabila kadang mereka tidak memahami kita. Bukankah kita juga kadang kesulitan memahami pikiran, perasaan dan perilaku sesama perempuan? Atau bahkan kesulitan memahami diri kita sendiri?

Satu hal yang jelas kita pahami bersama adalah kita terlahir sebagai perempuan. Ya, kita terlahir sebagai perempuan yang secara kodrati, sampai kapanpun, akan berbeda dengan laki-laki. Bukankah jika Tuhan mau, Ia bisa saja menyamakan kita dengan para laki-laki? Lalu jika itu terjadi, akankah ada laki-laki dan perempuan di dunia ini? Tidak.

Sebagai perempuan, kita diberi kelebihan atas para laki-laki. Begitu pula sebaliknya, mereka memiliki kelebihan atas diri kita. Kita harus mengakui itu. Emansipasi tidak berarti bahwa kita mampu melakukan segalanya dan tidak lagi membutuhkan laki-laki dalam kehidupan kita, karena sejatinya perempuan dan laki-laki itu saling melengkapi.

Emansipasi membuka pintu bagi kita untuk mengembangkan diri layaknya para laki-laki. Kita diberikan akses untuk meningkatkan kapasitas diri dan berperan dalam berbagai sektor kehidupan. Dengan segenap potensi yang dimiliki dan berbagai fasilitas yang ada, perempuan dapat menghasilkan karya-karya yang mengagumkan.

Sewajarnya jika di kemudian hari, ketika memasuki fase baru dalam hidup, kita akan menghadapi suatu dilema. Mengabdi sepenuhnya sebagai seorang istri dan ibu atau berkeluarga dengan tetap melanjutkan karier. Sebagian dari kita mungkin sudah mengambil keputusan mengenai hal ini, tetapi sebagian yang lain masih terjebak dalam kebimbangan.

Apapun yang akan kita jalani di masa yang akan datang, entah itu adalah pilihan atau paksaan keadaan, pastikan kita menjalaninya dengan segenap kebesaran jiwa dan kerendahan hati yang kita miliki. Hidup untuk membangun kehidupan yang lebih baik, tidak hanya untuk kesenangan diri kita sendiri.

Seribu jalan menuju Roma, tujuan yang sama tidak selalu ditempuh melalui jalan yang sama. Lima atau sepuluh tahun mendatang, kita mungkin hidup di tempat yang berbeda, dalam lingkungan yang berbeda, dengan gaya hidup yang berbeda. Saudariku, jika kita sampai pada masa itu, bisakah kita saling menerima dan menghargai sebagai sesama perempuan?

Kita sama-sama berjuang, meski dengan cara yang berbeda. Tidak ada perjuangan yang mudah, Saudariku. Ada rintangan-rintangan yang menunggu di setiap jalan berliku yang kita tempuh. Perjuangan yang mungkin akan memaksa kita untuk mengorbankan seluruh harta, jiwa dan raga. Oleh karenanya, bisakah kita saling menguatkan?

Salah satu daripada cita-cita yang hendak kusebarkan ialah: Hormatilah segala yang hidup, hak-haknya, perasaannya, baik tidak terpaksa baik pun karena terpaksa. (R.A. Kartini)

Friday, February 12, 2016

Hujan yang Sama

Rintik hujan di luar, sementara kita masih duduk berhadapan di salah satu sudut ruangan. Kamu menyeruput kopi sembari melempar pandangan ke luar jendela. Kamu tampak tenang, mendengarkan, hingga tiba giliranmu bercerita. Kamu mulai gelisah, berusaha untuk menelan kata-kata yang hendak keluar. Benar saja. Kali ini kamu tidak berhasil. Sudah terlampau banyak kata yang kamu telan kembali. Kamu pun mulai berkeluh-kesah, tentang hujan.

Hujan yang mengisi hari-harimu. Hujan yang membuatmu jatuh sakit. Hujan yang membuatmu cemas, khawatir akan datangnya badai. Hujan yang kadang memaksamu terjebak di suatu tempat. Hujan yang menjadikan langkahmu terasa berat untuk melanjutkan perjalanan. Hujan yang ingin kamu hindari. Hujan yang kamu harap akan berhenti, dan tidak turun lagi.

Aku tersenyum simpul. Berbisik dalam hati, berterimakasih pada hujan.

Hujan yang ingin menghapus air matamu. Hujan yang ingin mengusap peluhmu. Hujan yang ingin melindungimu dari sengatan matahari. Hujan yang ingin menjagamu dari debu-debu yang mengganggu. Hujan yang ingin mendinginkan suasana harimu. Hujan yang ingin menenteramkan hatimu. Hujan yang selalu datang kembali. Hujan yang bersikeras menunggu kamu mau berjalan bersamanya sesekali, dan mengharapkan kamu akan menerimanya suatu hari.


Yogyakarta, 12 Februari 2016