Tuesday, January 26, 2016

Tut Wuri Handayani


Ungkapan yang tidak asing bukan? Bahkan kita sudah akrab dengannya sejak duduk di bangku sekolah dasar. "Tut Wuri Handayani" adalah salah satu dari trilogi yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara. Hal yang menjadi pertanyaan adalah apakah kita benar-benar memahami ungkapan tersebut dan menghayatinya dalam kehidupan sehari-hari.

Tendensi sebagian manusia adalah menilai bahwa yang 'hebat' adalah yang berada di depan. Konstruksi pemikiran semacam ini perlu dikaji ulang, pasalnya mengakibatkan manusia terpatok pada tujuan (ingin menjadi yang terdepan) tanpa menghargai proses atau esensinya. Hal yang dapat membuat ia yang berada di depan menjadi tinggi hati, dan menyebabkan mereka yang berjuang di belakang menarik diri.

Coba luangkan waktu untuk menelisik sisi lain dari 'orang hebat': siapa saja yang berpengaruh baginya, apa peran orang-orang di sekitarnya, dan bagaimana proses perjuangannya. Seorang manusia tidak bisa maju sendiri, ia butuh manusia lain dalam berproses. Bukankah sudah menjadi rahasia umum jika manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan satu sama lain?

Allah memang Maha Adil. Ia memantapkan hati sebagian dari hambaNya untuk tetap berada di belakang. Padahal jika Ia berkehendak, bukan tidak mungkin seluruh manusia di muka bumi saling mencederai agar bisa berada di depan. Sungguh perencanaan yang begitu sempurna, tanpa cela.

Seseorang menjadi 'hebat' karena ada sekumpulan orang luar biasa di belakangnya. Jangan pikir mereka adalah orang-orang yang tidak mampu berada di depan. Tidak jarang mereka adalah orang-orang yang memang memilih untuk tetap berada di belakang dan terus berjuang dalam keremangan, meski tidak semua orang melihat mereka secara jelas.

Kekuatan dan pengorbanan mereka yang ada di belakang bisa jadi jauh lebih besar dari ia yang ada di depan. Berikanlah apresiasi sebaik mungkin, karena mereka pantas mendapatkannya. Berbanggalah apabila menjadi bagian dari mereka, karena manusia boleh jadi tidak melihat, tetapi Ia Maha Mengetahui.

Monday, January 4, 2016

Filosofi Lilin

Disampaikan oleh seorang teman kala rapat dan saya terkagum dibuatnya...

Lilin hanyalah sesuatu yang sederhana, tetapi mampu memberi cahaya. Hal yang perlu dipahami adalah bahwa ia akan menyinari sekitarnya ketika dalam kegelapan. Untuk itu, ia harus terbakar, meleleh, habis. Sayang, kemampuannya terbatas pada suatu sudut saja, bercahaya pada titik tertentu. Namun, ketika ada sekumpulan lilin, maka suatu tempat akan bersinar. Ketika ada lebih banyak lilin, maka daratan akan berpijar.

Kita hanyalah manusia biasa, tetapi mampu membawa pencerahan. Kita memberi pemahaman kepada mereka yang masih belum mengerti, bukan menggarami lautan. Untuk itu, kita harus rela menanggung sakit, berjuang sampai habis. Satu manusia mungkin mampu membawa perbaikan pada lingkungan tertentu. Namun, ketika sekelompok orang yang berusaha, perbaikan tersebut akan kian nyata. Ketika ada semakin banyak manusia, maka perbaikan menjadi niscaya.


Oh... Manakala mentari tua
Lelah berpijar
Oh... Manakala bulan nan genit
Enggan tersenyum
Berkerut-kerut tiada berseri
Tersendat-sendat merayap dalam kegelapan
Hitam kini hitam nanti
Gelap kini akankah berganti
Engkau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau mengganti
Sanggupkah kau memberi
Seberkas cahaya
Engkau lilin-lilin kecil
Sanggupkah kau berpijar
Sanggupkah kau menyengat
Seisi dunia
(Chrisye, Lilin-lilin Kecil)

Thursday, December 31, 2015

Tentang Kita

Aku dan kamu sama-sama tahu kisah ini, meski mungkin kita memahaminya dengan cara yang berbeda karena kita tidak sama. Ya, kita berbeda, tidak sama. Kamu dengan duniamu. Aku dengan duniaku. Namun, justru perbedaan yang membuat kisah ini menarik untuk dijalani. Belajar untuk melihat kisah ini sebagai sesuatu yang berbeda pula, sebagai dunia kita.

Kisah ini terus berjalan dan aku mencoba untuk memahamimu lebih dalam. Bisa jadi aku keliru karena kita lebih sering terperangkap dalam diam. Bisa jadi aku benar karena mata dan hati mampu mengurai apa yang tidak terucap di bibir. Namun itulah kenyataan, kita melewati semua ini dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh sembarang pihak, hanya kita dan Dia. Coba lihat ke belakang, apakah kamu juga menyadarinya? Kita melewati masa demi masa dan kisah ini terus berjalan.

Kita sama-sama belajar. Aku belajar untuk percaya dan menerima. Jika ingin membangun suatu jalinan, harus saling percaya dan saling menerima. Bukankah kamu sempat mengajarkan demikian? Aku tetap percaya, meski banyak hal menggoyahkan. Aku belajar untuk menerima, bahkan lebih dari itu. Aku belajar untuk merelakan. Konsekuensi yang harus kuterima karena kamu adalah seorang pejuang dan aku tidak berkeberatan atasnya.

Teruslah melangkah. Banyak yang menantimu, banyak yang membutuhkanmu. Sungguh, aku rela kamu berkelana demi kebaikan. Jika pada suatu masa aku gamang, maka ingatkanlah aku bahwa semua ini hanya sementara dan kita akan bertemu kemudian. Jika pada suatu masa kamu lelah, maka berhentilah sejenak dan kamu tahu ada teman untuk berbagi. Kemanapun kamu pergi, bagiku kamu tetap dekat. Walau aku tidak dapat mendampingimu di setiap tempat, aku tetap menjagamu di tempat ini, tepat di hati. Semoga Allah meridhoi.


30 Desember 2012

Tuesday, December 29, 2015

Perempuan Yang Melepas Kau Pergi

Barangkali kau masih bertanya-tanya, atau bahkan mulai kecewa, karena perempuan ini tidak menahanmu yang akan meninggalkannya. Ia memilih untuk melepaskanmu, yang entah kapan akan kembali lagi.

Ia mengenalmu, mengerti kemampuanmu, memahami cita-citamu. Oleh karena itu, ia tidak ingin mengekangmu untuk dirinya sendiri. Ia mafhum akan banyaknya orang di luar sana yang membutuhkanmu.

Ia telah mencukupkan apa yang semestinya ia lakukan sebagai manusia yang dititipkan rasa kasih sayang atas dirimu. Ia tidak akan memintamu untuk tetap tinggal. Ia sudah meminta hal yang lain pada Tuhan.

Mengapa masih ragu untuk meninggalkannya?

Ia memohon padaNya dengan uraian air mata, maka pergilah.

Karena Tuhan akan memberikan kekuatan padanya dan menetapkan hatinya, apabila kau akan kembali suatu hari nanti.

Perempuan ini, yang melepas kau pergi, memintanya.


Yogyakarta, 29 Desember 2015

Wednesday, November 4, 2015

Personal Project #1

Pada bulan Agustus kemarin saya sempat melakukan suatu personal project. Saya meminta beberapa teman saya untuk memberikan nasihat atau pelajaran apapun yang terlintas di pikiran mereka. Mengapa saya melakukan personal project ini? Saya percaya bahwa orang-orang di sekitar kita bisa menjadi bahan refleksi, bahkan kadang kala sebenarnya kita sedang menghadapi hal yang serupa dengan orang yang ada di hadapan kita tetapi kita tidak menyadarinya. Berikut adalah sepuluh hal yang saya dapatkan dari sepuluh teman saya setelah saya melakukan personal project ini selama sepuluh hari.

August 15, 2015
"Laki-laki juga butuh kepastian, bukan hanya perempuan. Laki-laki pun tidak senang kalau hanya jadi pilihan."
-Ario Bimo Utomo

August 16, 2015
"Kemanapun kita berjalan, ingatlah bahwa hati itu milik Allah."
-Khadijah Auliaur Rohmaani

August 17, 2015
"Jangan pernah putus asa sama janji Allah, walaupun susah dan kamu dirundung segala ketidakpastian. Selalu konsisten sama amal baik, jangan pernah diputus sama dosa, karena konsisten itu susah."
-Hadza Min Fadhli Robby

August 18, 2015
"Tidak perlu terlalu banyak memikirkan hal-hal yang tidak penting karena ada hal-hal penting menunggu."
-Intan Purwandani Ghofur

August 19, 2015
"Orang yang penuh dengan kehati-hatian saja bisa celaka, apalagi orang yang tidak berhati-hati."
-Dina Wahida

August 20, 2015
"Most of the time, the problem that we face has been faced by others. By sharing with others, you open yourself for advice, and for help. If you can't solve a problem, keeping it to yourself will never make it gone away."
-Bara Ekiyama Brahmantika

August 21, 2015
"Biasakan yang baik, bukan membaik-baikkan kebiasaan."
-Nisa Salsabila

August 22, 2015
"Buah dari kerja keras dan kesabaran itu tidak semata-mata hasil yang baik, melainkan proses yang ada di dalamnya. Bersabarlah dalam berproses. Jalani, nikmati, syukuri yang ada."
-Diana Pratiwi

August 23, 2015
"Treat your friends right before it's too late."
-Aulia Istiqomah

August 24, 2015
"Be yourself."
-Ratna Anggareni