Monday, August 17, 2015

Aku mendorong diriku agar terus berjalan sembari mengatur nafasku yang mulai tersengal. Langkahku tidak semantap sebelumnya. Barangkali aku sedang lelah atau ragu dengan jalan yang aku tempuh. Tetesan keringat jatuh ke tanah, sengaja aku biarkan. Aku mencoba untuk menikmati perjalanan. Kebas, mungkin ini terlalu keras.

"Bagaimana perjalananmu? Apa yang sedang kamu rasakan?" batinku. Aku melempar pandangan jauh ke depan, berharap kita akan bertemu di ujung sana. Namun semakin jauh aku berjalan, aku semakin mempertanyakan apakah ujung itu benar-benar ada. Yang tersisa sekarang adalah keyakinan. Kamu pantas untuk diperjuangkan dan kita satu tujuan.


KA Prameks Solo-Jogja, 16 Agustus 2015

Tuesday, August 11, 2015

Ter-si/su-rat

Ada yang tersirat dalam yang tersurat.
Sulit dimengerti memang, apalagi bagi mereka yang perasaannya kurang tajam. Butuh perjuangan yang lebih agar mereka mengerti. Meskipun demikian, tidak berarti mereka yang memiliki kepekaan relatif baik bisa dengan mudah menafsirkan apa yang tersirat di balik yang tersurat. Kadang kala mereka salah mengartikan atau malah mereka terlalu jauh dalam memaknai sesuatu.

Ada yang tersurat dalam yang tersirat.
Yang satu ini jauh lebih sulit untuk dipahami. Dalam isyarat, dalam yang tersirat, tersembunyi hal yang tersurat. Misteri yang lebih rumit dari kode Da Vinci. Kenyataan dan dugaan susah untuk dibedakan. Tabir tipis tetapi sulit diterawang dengan mata telanjang, bahkan mata hati sekalipun.

Sebagian memilih untuk memperjelas apa yang sesungguhnya terjadi. Sebagian yang lain membiarkannya berlalu, mempercayakannya pada waktu.

Detik demi detik... Hari demi hari...

And they said, "Some things are better left unsaid."


7 Mei 2013 

Monday, July 27, 2015

Menuju 1 Juli

Sudah lama aku tidak merangkai kata-kata seperti ini. Berbagai suara dalam benak tidak kunjung berhasil mendorong jemariku untuk menari. Namun kali ini, jemariku ingin berdansa. Kamu tahu kenapa? Karena aku melihat jalan itu, jalan yang disingkap oleh sinar mata itu, jalan yang ada di hadapanmu.

Kamu terdiam, tertunduk dalam ragu. Kamu masih memandang bekas lukamu, meski telah lama kamu bangkit dan meninggalkan tempat dimana kamu jatuh. Sekuat itu rupanya. Sekuat itu tenaga yang kamu butuhkan untuk bangkit dan berjalan kembali dengan luka yang belum sembuh.

Aku bertanya mengapa kamu tidak melanjutkan perjalananmu. "Aku takut terjatuh lagi," jawabmu dengan lirih. Jalan itu perlahan kembali buram seiring dengan sinar mata yang mulai meredup. Jikalau memelukmu dengan erat dapat menjaga sinar mata itu, ingin rasanya kulakukan selama aku mampu.

Sayangnya, pelukanku hanya mampu memberikanmu kekuatan. Apa yang baru saja kamu temukan lah yang dapat menerangi jalan di hadapanmu. Harapan yang sedang kamu sembunyikan dalam genggaman tanganmu. Kenapa tidak kamu biarkan ia menuntunmu menelusuri jalan itu?

Coba kamu tengok ke belakang. Kamu tetap bisa berjalan meski sempat tertatih-tatih. Lalu mengapa kamu terhenti di saat kamu berangsur pulih? Tidak usah kamu risaukan bekas lukamu, biarkan ia menjadi bagian dari dirimu. Bukalah genggaman tanganmu agar sinar mata itu tetap terjaga.

Melangkahlah... Menuju 1 Juli...


Yogyakarta, 28 Juni 2015

Wednesday, July 22, 2015

Rabu

Di hari Rabu
Tatapan ragu
Senyuman bisu
Itukah dirimu?

Tengok ke ujung sana
Ia melirik dengan iba
Menahan semua tanya
Menunggumu tertawa

Kau rasa masih mampu
Menyimpan semua pilu
Ia memerhatikanmu
Mengapa membatu?

Usah ingkari
Butuh teman untuk berbagi
Hidup tidaklah sendiri
Jika sendiri berarti mati


5 Desember 2012

Penantian Kan Berujung

Teruntuk kau yang sedang mengarungi arus waktu...

Letih dan sakit niscaya menjadi bagian darimu. Jika kau enggan untuk payah, menyerahlah dan segera enyah.

Racik hati dan akal menjadi sesuatu yang apik. Jangan sampai hati tertutup atau akal terhenti. Temukan alasan mengapa kau bertahan.

Kekuatan akan datang ketika kau memahami dengan sungguh apa yang sedang kau perjuangkan. Kelapangan akan tiba ketika kau menikmati dengan rela perjalanan di depan mata.

Penantian bergandengan dengan ketidakpastian. Tidak ada yang mampu memastikan bagaimana rupa kejadian berikutnya.

Kepastian yang harus kau mengerti adalah keniscayaan 'akhir'.

Pada akhirnya, waktu akan mengungkap. Pada akhirnya, misteri akan terkuak.

Dan... Kau akan menemukan jawaban di ujung penantian.


4 Desember 2012